PLTMH Panji Muara di Sambangan Pasok Listrik ke Jaringan PLN
PLTMH Panji Muara di Desa Sambangan, Buleleng, memasok listrik ke jaringan PLN sejak 2016. Pembangkit ini memanfaatkan Tukad Tiyingtali, dengan kapasitas unit 2 x 700 kW dan kapasitas maksimum dua generator disebut 2.300 kW.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Buleleng — Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro Panji Muara di Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng, memasok listrik ke jaringan PLN dengan memanfaatkan aliran air Tukad Tiyingtali. Fasilitas ini disebut mulai beroperasi pada Oktober 2016 dan menjadi pembangkit mini hidro komersial pertama di Bali menurut siaran pers PLN dan laporan IESR.
Di lokasi itu, air ditampung lebih dulu dalam waduk berkapasitas 850 meter kubik pada ketinggian 858,5 meter di atas permukaan laut. Air kemudian dialirkan melalui pipa sepanjang 526 meter untuk menggerakkan dua generator yang memiliki kapasitas maksimum 2.300 kW, sebelum listriknya diterima trafo dan disalurkan ke jaringan PLN.
Dalam laporan media lokal dan PLN, kapasitas operasional pembangkit ini disebut 2 x 700 kW untuk unit generator, sementara kapasitas maksimal dua generator digambarkan mencapai 2.300 kW. Rincian itu menunjukkan bahwa angka kapasitas pada draft perlu dipisahkan antara kapasitas unit yang terpasang dan kapasitas maksimum yang dilaporkan pengelola.
Ketergantungan pada debit air
Operasi PLTMH Panji Muara bergantung pada debit sungai. Detik Bali melaporkan warga Sambangan sudah menikmati listrik dari pembangkit itu sejak 2016, tetapi produksi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air di musim hujan dan musim kering.
IESR juga mencatat pembangkit ini sebagai etalase energi terbarukan di Bali bagian utara. Menurut lembaga itu, air dari Tukad Tiyingtali menjadi sumber utama untuk menggerakkan turbin sebelum listrik disalurkan ke jaringan PLN.
Laporan Balipuspanews pada 2017 menyebut pembangkit ini sempat diklaim mampu menyuplai listrik bagi sekitar 2.500 rumah di Buleleng, tetapi laporan yang sama juga menyatakan kapasitas maksimum yang saat itu tercapai belum penuh 2.300 kW.
Sejarah pembangunan
Menurut PLN, PLTMH Panji Muara dibangun sebagai pembangkit mini hidro komersial pertama di Bali dan mulai membangkitkan listrik sejak Oktober 2016. IESR menyebut pengelola memanfaatkan aliran air dari kawasan perbukitan Sambangan setelah melalui tahap riset, pembangunan infrastruktur, dan penyambungan ke jaringan PLN.
Berita lokal juga menggambarkan akses menuju lokasi yang menantang karena berada di perbukitan dan hutan, sehingga pengangkutan peralatan memerlukan bantuan berbagai pihak. Pada saat yang sama, pengelola harus menyiapkan infrastruktur dasar sebelum pembangkit bisa beroperasi penuh.
Dampak bagi warga
Detik Bali melaporkan warga Sambangan menyambut suplai listrik dari pembangkit tersebut karena memudahkan kebutuhan listrik rumah tangga dan mengurangi ketergantungan pada kincir air tradisional. Dalam laporan yang sama, pengelola juga mempekerjakan warga setempat, sehingga keberadaan pembangkit memberi dampak ekonomi langsung di desa.
Dengan demikian, PLTMH Panji Muara menjadi salah satu contoh pemanfaatan mikrohidro untuk wilayah perbukitan di Bali utara. Namun, kinerja pembangkit tetap ditentukan oleh debit air, kondisi jaringan, dan kemampuan infrastruktur menyalurkan energi ke PLN.
Catatan angka penting: kapasitas pembangkit yang konsisten muncul dalam sumber adalah 2 x 700 kW untuk unit generator, sementara kapasitas maksimum dua generator disebut 2.300 kW.
Sumber
Berita berikutnya


