Bali Aktual

Rabu, 7 Oktober 2026

Perajin Bali Butuh Pasar untuk Menjaga Keberlanjutan Budaya

Pelaku pelestarian budaya menilai pasar dan pendapatan menentukan keberlanjutan profesi perajin Bali. Akses konsumen, ruang pamer, dan kolaborasi usaha dinilai perlu diperkuat.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Sebuah alat pahat kayu dan serpihan kayu terletak di atas meja kerja kayu.
Ilustrasi: Sebuah alat pahat kayu dan serpihan kayu terletak di atas meja kerja kayu. · Foto: Tanpa nama / rawpixel (Openverse), CC0

Denpasar — Pelaku pelestarian budaya menilai perajin lokal di Bali membutuhkan pasar dan pendapatan yang memadai pada Rabu (7/10/2026) agar keterampilan tradisional tetap berjalan dan diwariskan.

Founder & Creative Conceptor TULOLA, Happy Salma, mengatakan tantangan terbesar dalam mengembangkan kekayaan budaya Indonesia adalah membangun pasar nyata bagi produk lokal. Menurutnya, keberlangsungan profesi perajin tidak dapat dipisahkan dari terserapnya produk dan pendapatan yang diterima.

Ketika karya tidak memiliki pembeli, pendapatan perajin ikut terancam. Karena itu, ekosistem pelestarian perlu mencakup akses konsumen, ruang untuk memamerkan karya, akses pasar, dan kolaborasi dengan pelaku usaha. Langkah tersebut menjaga agar keterampilan tradisional tetap memiliki nilai ekonomi.

Pasar membuat keterampilan tradisional tetap hidup

Gagasan ini relevan bagi pembaca di Bali karena pasar bukan hanya tempat transaksi. Pasar Seni Sukawati di Desa Adat Sukawati, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, menjadi contoh wadah bagi pengrajin dan seniman untuk menjual lukisan, patung, pakaian khas Bali, serta kerajinan tangan tradisional.

Pengelolaan berbasis masyarakat adat di Pasar Seni Sukawati juga memberi manfaat bagi desa adat dan warga sekitar. Pendapatan pasar digunakan untuk kegiatan sosial, budaya, keagamaan, serta pembangunan infrastruktur desa. Warga yang bekerja sebagai pedagang, pengrajin, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah merasakan manfaat langsung dari kegiatan tersebut.

Happy menekankan bahwa pelestarian bukan hanya menyimpan karya masa lalu atau menampilkan tradisi dalam sebuah acara. Pelestarian juga berarti menciptakan pasar agar perajin dapat memperoleh pendapatan, mempertahankan keterampilan, dan meneruskan pengetahuan budaya kepada generasi berikutnya.

Bagi pembaca hari ini, dukungan paling langsung adalah membeli karya perajin, mengunjungi ruang pamer, dan membuka kolaborasi usaha yang memberi akses kepada konsumen. Tidak ada tarif atau jadwal baru yang diumumkan dalam laporan ini.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Budaya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.