Kemarau Panjang, 1.048 KK di Jembrana Krisis Air Bersih
Kemarau panjang membuat 1.048 kepala keluarga di Jembrana mengalami krisis air bersih.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Negara — Sedikitnya 1.048 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Jembrana, Bali, terdampak krisis air bersih akibat kemarau panjang hingga pertengahan September 2026, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana.
Kalaksa BPBD Jembrana I Putu Agus Artana Putra menjelaskan, musim kemarau berkepanjangan membuat sejumlah wilayah kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan sehari-hari. BPBD menyalurkan air dengan mobil tangki ke titik-titik yang dilaporkan warga mengalami kekurangan pasokan.
Distribusi air dan penampungan darurat
Menurut data BPBD Jembrana yang disampaikan Agus Artana, total air bersih yang telah didistribusikan ke warga terdampak mencapai 408.200 liter atau sekitar 408,2 meter kubik hingga pertengahan September 2026.
Distribusi dilakukan ke sejumlah titik di empat kecamatan yang dilaporkan mengalami kekurangan air bersih. BPBD menyiapkan penampungan air di lokasi-lokasi tersebut agar pasokan dari mobil tangki dapat dimanfaatkan warga.
Ketersediaan tandon air komersial di lapangan terbatas, sehingga tidak semua titik memiliki bak penampungan permanen. Untuk mengatasi hal itu, petugas BPBD dan warga membuat kolam atau bak darurat menggunakan terpal dan rangka sederhana sebagai penampungan sementara. Cara ini memungkinkan air yang dikirim tetap dapat ditampung dan dibagi kepada warga di sekitar lokasi.
BPBD Jembrana juga memasang sejumlah bak penampungan air di titik terdampak, baik tandon siap pakai maupun konstruksi darurat yang dibangun di dekat sumber distribusi. Penempatan bak disesuaikan dengan laporan kebutuhan dari desa dan kelurahan.
Skala dampak dan kebutuhan warga
Data BPBD Jembrana yang dikutip berbagai media regional mencatat hingga pertengahan September 2026:
- Jumlah keluarga terdampak krisis air bersih: 1.048 KK.
- Volume air bersih yang telah disalurkan: 408.200 liter atau sekitar 408,2 meter kubik.
Volume tersebut merupakan akumulasi distribusi ke berbagai titik dalam beberapa bulan kemarau. Agus Artana menyebut angka itu masih berpotensi bertambah seiring berlanjutnya musim kemarau.
Jika volume bantuan dibagi rata secara aritmetis kepada seluruh keluarga terdampak, jumlahnya sekitar 389 liter per KK. Perhitungan ini hanya gambaran kasar dan bukan jatah resmi setiap keluarga, karena distribusi nyata di lapangan bergantung pada lokasi, intensitas pengiriman, dan jumlah warga di tiap titik.
Kebutuhan air bersih warga di wilayah terdampak dinilai belum dapat diukur hanya dari total volume suplai, karena bergantung pada jumlah anggota keluarga, keberadaan sumber air alternatif, serta jarak ke titik penampungan.
Potensi perluasan dampak kemarau
BPBD Jembrana memperkirakan krisis air bersih dapat meluas jika musim kemarau tetap berlangsung panjang. Menurut Agus Artana, wilayah terdampak tidak tertutup kemungkinan bertambah seiring berkurangnya cadangan air di permukaan dan sumur warga.
Prakiraan cuaca yang menjadi rujukan pemerintah daerah menunjukkan musim kemarau 2026 di Bali cenderung lebih kering dan panjang, dengan durasi rata-rata hingga November dan di beberapa wilayah bertahan sampai awal Desember. Kondisi ini berkaitan dengan pengaruh fenomena El Nino yang membuat curah hujan lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
BPBD Jembrana menyiagakan armada mobil tangki dan personel untuk merespons laporan masyarakat, serta berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kelurahan untuk pemetaan titik rawan. Warga yang mengalami kesulitan pasokan air bersih diminta segera melapor agar dapat dijadwalkan distribusi bantuan.
BPBD Provinsi Bali sebelumnya mencatat Jembrana sebagai salah satu kabupaten yang mengalami kekeringan pada musim kemarau 2026, dengan distribusi ratusan ribu liter air bersih ke sejumlah desa. Catatan tersebut menjadi dasar peningkatan mitigasi melalui penyediaan sumber air, penampungan, dan jaringan distribusi di tingkat kabupaten.
Sumber
Berita berikutnya


