Jasa RS Jadi Penyumbang Terbesar PNBP BLU Bali Semester I 2026
Pendapatan jasa rumah sakit menjadi kontributor terbesar PNBP BLU di Bali pada semester I 2026 dengan pertumbuhan dua digit.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· 4 menit baca
Denpasar — Pendapatan jasa rumah sakit menjadi kontributor terbesar penerimaan negara bukan pajak Badan Layanan Umum (PNBP BLU) di Bali pada semester I 2026, dengan realisasi sekitar Rp702,74 miliar. Menurut Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Bali, kinerja PNBP BLU tumbuh positif meski secara keseluruhan PNBP Bali masih terkontraksi secara tahunan.
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Bali Supendi menyampaikan capaian tersebut dalam konferensi pers realisasi APBN dan APBD regional Bali hingga 30 Juni 2026 di Denpasar. Dalam siaran pers resmi, DJPb Bali menjelaskan bahwa PNBP BLU di wilayah ini tumbuh 22,34 persen secara tahunan dengan kontribusi tertinggi dari pendapatan jasa pelayanan rumah sakit.
DJPb Bali mencatat bahwa PNBP BLU menjadi salah satu penopang penerimaan negara di Bali di tengah kontraksi pada kelompok PNBP lainnya. Struktur penerimaan ini menunjukkan peran layanan publik, khususnya kesehatan, dalam komposisi PNBP di daerah yang selama ini identik dengan pariwisata.
PNBP BLU tumbuh 22,34 persen
Dalam siaran pers realisasi APBN Bali, DJPb menyebut kelompok PNBP sebagai salah satu komponen penerimaan yang turut berperan dalam peningkatan kinerja pendapatan. Realisasi PNBP Bali tercatat sekitar Rp2,13 triliun atau 47,25 persen dari target hingga 30 Juni 2026.
DJPb menjelaskan bahwa kinerja PNBP BLU meningkat 22,34 persen secara tahunan. Kontribusi tertinggi berasal dari pendapatan jasa pelayanan rumah sakit dengan realisasi sekitar Rp702,74 miliar. Kementerian Keuangan tidak merinci dalam siaran pers tersebut persentase pencapaian terhadap target khusus pendapatan jasa rumah sakit maupun rincian per fasilitas kesehatan.
Siaran pers itu juga menyebut bahwa PNBP BLU menjadi faktor penyeimbang di tengah pelemahan kelompok PNBP lainnya. Namun, angka detail untuk kategori lain seperti pelayanan pendidikan dan kerja sama lembaga atau badan usaha tidak diuraikan dalam dokumen yang dipublikasikan DJPb Bali.
PNBP lainnya turun 21,53 persen
Masih menurut siaran pers DJPb Bali, kinerja PNBP secara keseluruhan menurun 3,38 persen secara tahunan karena adanya kontraksi pada PNBP lainnya sebesar 21,53 persen. Penurunan ini terjadi meski PNBP BLU tumbuh dua digit.
Media lokal Bisnis Nusa merangkum kembali data DJPb Bali dan menyebut realisasi PNBP kategori lainnya di Bali mencapai sekitar Rp1,01 triliun pada semester I 2026, turun 21,53 persen dibandingkan Rp1,29 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Media tersebut juga menuliskan rincian bahwa pendapatan dari visa menyumbang sekitar Rp405,25 miliar, sementara izin keimigrasian dan izin masuk kembali sekitar Rp136,5 miliar.
Menurut ulasan yang sama, pendapatan visa menjadi salah satu komponen terbesar dalam kelompok PNBP lainnya. Catatan ini sejalan dengan penjelasan DJPb Bali bahwa kontraksi PNBP lainnya menjadi faktor utama penurunan total PNBP meski PNBP BLU menunjukkan pertumbuhan.
Kunjungan wisman turun 2,42 persen
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali pada periode Januari–Juni 2026 mencapai 3.203.156 orang, turun 2,42 persen dibandingkan 3.282.747 kunjungan pada periode yang sama 2025. Data ini dipublikasikan antara lain melalui rilis foto dan laporan media nasional yang mengutip BPS Bali.
Platform data Katadata juga menayangkan ringkasan statistik BPS yang menyebut terdapat 3,2 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali pada semester I 2026, dengan uraian negara asal wisatawan. Angka ini konsisten dengan data BPS Bali mengenai penurunan 2,42 persen secara tahunan.
Penurunan jumlah wisman terjadi bersamaan dengan kontraksi PNBP lainnya, termasuk penerimaan dari visa. Namun, baik DJPb Bali maupun BPS tidak merinci dalam dokumen resmi seberapa besar perubahan kunjungan wisatawan berkontribusi langsung terhadap penurunan pendapatan visa dan total PNBP di Bali.
Konteks penerimaan negara di Bali
DJPb Bali menyimpulkan bahwa secara keseluruhan kinerja APBN di Provinsi Bali hingga semester I 2026 masih menunjukkan surplus, meski PNBP mengalami kontraksi. Surplus ini didukung oleh kinerja penerimaan perpajakan dan pengelolaan belanja negara di daerah.
Dalam konteks PNBP, kombinasi pertumbuhan PNBP BLU dan penurunan PNBP lainnya menggambarkan perubahan komposisi sumber penerimaan negara di Bali. Pendapatan jasa rumah sakit yang meningkat mencerminkan peran layanan kesehatan sebagai sumber PNBP, sementara besarnya kontribusi pendapatan visa menunjukkan bahwa mobilitas lintas negara tetap menjadi komponen penerimaan yang perlu dicermati.
Data yang tersedia dari DJPb Bali, BPS Bali, dan media lokal memberi gambaran bahwa semester I 2026 ditandai oleh diversifikasi sumber PNBP melalui BLU serta penyesuaian penerimaan yang terkait dengan arus wisatawan mancanegara.
Sumber
- Kanwil DJPb Provinsi Bali – "Realisasi APBN dan APBD Bali Semester I 2026 Tumbuh Positif"
- Bisnis Nusa – "Wow! Bali Sumbangkan Rp405,25 Miliar ke Kas Negara Pada Semester I Tahun 2026"
- Media Indonesia – "BPS: Kunjungan Wisatawan Asing ke Bali Capai 3,2 Juta"
- Katadata Databoks – "Ada 3,2 Juta Kunjungan Turis Asing ke Bali Semester I 2026, Ini Asalnya"
Berita berikutnya
Penjualan Listrik Bali Tembus 4.111,51 GWh pada Semester I 2026
PLN UID Bali melaporkan penjualan tenaga listrik pada semester I 2026 mencapai 4.111,51 GWh atau 101,50 persen dari target. Sektor bisnis menjadi peng…

