Inflasi Bali 3,45 Persen, BPS dan BI Soroti Pasokan Pangan
Inflasi tahunan Bali pada Agustus 2026 mencapai 3,45 persen dan menjadi yang tertinggi dalam empat tahun.
Oleh Mukmin John
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Denpasar — Inflasi tahunan Provinsi Bali mencapai 3,45 persen pada Agustus 2026 dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5 persen ± 1 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI) menilai tekanan harga perlu diwaspadai terutama dari sisi pasokan pangan saat permintaan pariwisata meningkat.
BPS Provinsi Bali mencatat inflasi Bali pada Agustus 2026 sebesar 3,45 persen secara year-on-year, naik dibandingkan Agustus 2025 sebesar 2,65 persen dan Agustus 2024 sebesar 2,32 persen. Sejumlah media seperti RRI dan IDN Times menulis inflasi Agustus 2026 sebagai yang tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Secara bulanan, Bali mengalami inflasi 0,61 persen pada Agustus 2026, berbalik dari deflasi 0,51 persen pada Juli 2026. Inflasi Bali tersebut sedikit di atas inflasi nasional yang tercatat 3,19 persen secara tahunan, namun tetap dinilai terkendali karena berada dalam koridor sasaran inflasi nasional.
Beberapa media mengutip Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, yang menyebut inflasi 3,45 persen masih relatif terkendali dan belum terlalu memengaruhi daya beli masyarakat. Menurut Agus, inflasi baru perlu diwaspadai penuh bila sudah melewati sekitar 5 persen.
Pangan dan transportasi menjadi pendorong
BPS Bali melaporkan kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebagai salah satu kontributor utama inflasi Bali Agustus 2026, diikuti kelompok Transportasi. Bensin menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni sekitar 0,41 persen, dengan kenaikan harga 7,92 persen.
Sejumlah komoditas lain yang turut memberi andil terhadap inflasi adalah daging ayam ras, emas perhiasan, minyak goreng, cabai rawit, dan jasa pemeliharaan. Untuk inflasi bulanan, daging ayam ras tercatat sebagai penyumbang utama, dengan kenaikan harga sekitar 8,34 persen dan andil 0,21 persen terhadap inflasi Agustus 2026.
Media yang mengutip penjelasan BPS mengaitkan kenaikan harga daging ayam ras dengan tingginya permintaan pada musim kunjungan wisatawan dan gangguan pasokan bibit ayam sebelumnya. Di sisi lain, BI Bali mencatat kenaikan harga tiket angkutan udara dan sejumlah pangan seperti sayuran dan olahan makanan ikut mendorong inflasi.
Denpasar tertinggi, inflasi masih dalam sasaran
Berdasarkan data BPS Bali, inflasi tahunan tertinggi di Bali pada Agustus 2026 terjadi di Kota Denpasar dengan 3,64 persen, disusul beberapa kabupaten lain yang juga mencatat inflasi di atas 3,5 persen. Meski demikian, BI Bali menyatakan inflasi Bali secara keseluruhan masih berada dalam rentang sasaran nasional dan memprakirakan inflasi sepanjang 2026 tetap dapat dijaga.
BI Bali mengaitkan tekanan inflasi dengan periode puncak kunjungan wisatawan dan berbagai kegiatan konsumsi, namun menekankan peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam penguatan pemantauan harga dan operasi pasar. Pemerintah daerah bersama TPID juga disebut terus mendorong Gerakan Pangan Murah, fasilitasi distribusi, dan kerja sama antardaerah untuk menjaga pasokan komoditas.
BPS menilai inflasi 3,45 persen masih terkendali, tetapi menekankan perlunya perhatian terhadap daya beli rumah tangga. Pemerintah daerah didorong memastikan ketersediaan komoditas pangan dan transportasi, agar tekanan permintaan pariwisata dan potensi gangguan produksi tidak berujung pada kenaikan harga yang lebih tinggi.
Sumber
Berita berikutnya
448.734 UMKM Bali Terdata, 310.526 Sudah Ber-NIB
Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali mencatat 448.734 UMKM telah terdata di provinsi ini. Dari jumlah itu, 310.526 usaha memiliki Nomor Induk Berusaha…

