Bali Aktual

Minggu, 20 September 2026

Forkom Dewi Bali Siapkan 245 Desa Wisata Tangguh Bencana

Forkom Dewi Bali menyiapkan model desa wisata tangguh bencana bagi 245 desa wisata di Bali, berkaca pada kebakaran Desa Adat Sade di Lombok Tengah.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 3 menit baca

Denpasar — Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkom Dewi) Bali menyiapkan pembentukan model desa wisata tangguh bencana dengan menguatkan mitigasi kebakaran dan bencana lain di desa wisata Bali, berkaca pada kebakaran Desa Adat Sade di Lombok Tengah pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Ketua Forkom Dewi Bali I Made Mendra Astawa menyampaikan rencana tersebut di Denpasar, Rabu, 26 Agustus 2026. Menurut Mendra, musibah di Sade menjadi pengingat bahwa pengembangan desa wisata harus disertai kesiapsiagaan dari tahap pra-bencana hingga pascabencana.

Dalam pernyataannya, Mendra menegaskan desa wisata di Bali umumnya berbasis permukiman dengan material alami, serupa dengan karakter Kampung Adat Sade di Lombok Tengah. Kondisi itu membuat aspek keselamatan dan mitigasi kebakaran menjadi bagian penting dalam pengelolaan desa wisata.

245 Desa Wisata dan Rencana Mitigasi

Mendra menyebut Bali memiliki sekitar 245 desa wisata yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Sebagian besar desa wisata tersebut mengandalkan potensi alam dan budaya di lingkungan permukiman serta rumah warga, sehingga penguatan tata kelola keselamatan dinilai mendesak.

Forkom Dewi Bali menyiapkan model desa wisata tangguh bencana melalui penyusunan standar operasional prosedur mitigasi yang disesuaikan dengan karakter kawasan desa wisata. Rencana ini mencakup pengaturan jalur evakuasi, penyiapan sarana pemadam kebakaran sederhana, serta pembinaan masyarakat dan pelaku usaha pariwisata.

Menurut Mendra, penerapan standar Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE) akan dipadukan dengan aturan perilaku bagi wisatawan. Aturan tersebut diharapkan dapat mengurangi tindakan ceroboh, seperti pembakaran sampah atau pembuangan puntung rokok sembarangan di jalur trekking dan kawasan hutan yang berpotensi memicu kebakaran.

Mendra mencontohkan desa wisata berbasis permukiman seperti Desa Penglipuran di Bangli yang telah menerapkan prinsip keberlanjutan. Ia menambahkan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada pemerintah atau pengelola destinasi, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat, pelaku usaha, dan media.

Kolaborasi dengan BPBD dan Multipihak

Forkom Dewi Bali menyatakan kesiapan berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Asosiasi Pelaku Pariwisata Desa (APAD) untuk memperkuat mitigasi bencana di desa wisata. Kolaborasi diarahkan pada penyediaan alat kebakaran, penguatan jalur evakuasi, serta mendorong skema asuransi bagi desa wisata yang belum memiliki perlindungan.

Mendra menekankan bahwa tidak semua desa wisata memiliki asuransi sehingga pencegahan dan penanggulangan bencana menjadi krusial dalam menjaga keberlanjutan ekonomi dan sosial warga. Penguatan kapasitas desa wisata dinilai penting agar destinasi tidak hanya fokus pada pengembangan, tetapi juga siap menghadapi risiko bencana.

Kebakaran Desa Adat Sade Menjadi Pelajaran

Kampung adat suku Sasak di Desa Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, mengalami kebakaran besar pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Api dilaporkan mulai membesar sekitar pukul 22.00 Wita dan cepat menyebar karena banyak bangunan menggunakan bahan kayu dan ilalang.

Berbagai laporan mencatat dampak kebakaran yang signifikan. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah kemudian memperbarui data dengan menyebut 75 rumah dan 69 art shop hangus, disertai kerusakan fasilitas adat dan umum seperti masjid, berugak, lumbung, dan balai desa. Laporan lain menyebut total 167 bangunan ludes terbakar berdasarkan data BPBD NTB.

Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri menyatakan kebakaran berdampak pada sekitar 120 kepala keluarga atau 320 jiwa. Meski kerusakan fisik besar, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Mendra memandang peristiwa di Sade sebagai pelajaran penting bagi desa wisata di Bali. Musibah ini menunjukkan bahwa destinasi wisata yang berbasis permukiman adat dan budaya rentan terhadap kebakaran dan memerlukan perencanaan mitigasi yang sistematis.

Ia menegaskan pengembangan desa wisata ke depan harus semakin mengedepankan prinsip keberlanjutan, termasuk kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, agar masyarakat dan pelaku wisata terlindungi ketika musibah terjadi.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.