Dari 16 Lontar yang Didata di Buleleng, 15 Ditemukan Rusak
UPTD Museum Lontar Gedong Kirtya mendata 16 lontar di Joanyar dan Banjar, Buleleng. Sebanyak 15 rusak, satu masih baik. Pendataan dilakukan atas permintaan warga untuk pelestarian dan identifikasi.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Singaraja — Dinas Kebudayaan Buleleng melalui UPTD Museum Lontar Gedong Kirtya mendata 16 lontar milik warga di Desa Joanyar dan Desa Banjar, Kecamatan Seririt dan Kecamatan Banjar, pada 10–11 Juli. Dari jumlah itu, 15 lontar ditemukan dalam kondisi rusak, sementara satu lontar masih baik.
Di Desa Joanyar, petugas memeriksa enam cakep lontar. Lima di antaranya rusak dan satu masih baik. Sehari kemudian, pendataan di Desa Banjar menemukan 10 lontar yang seluruhnya mengalami kerusakan ringan maupun berat.
Kepala UPTD Museum Lontar Gedong Kirtya, Dewa Ayu Putu Susilawati, mengatakan pendataan lontar masyarakat dilakukan rutin setiap tahun sesuai permintaan warga. Menurut dia, petugas kerap menghadapi kesulitan membaca dan mengidentifikasi isi lontar karena kondisi fisiknya sudah rusak.
Susilawati juga menjelaskan, kerusakan itu kerap berkaitan dengan cara penyimpanan yang kurang tepat. Sebagian pemilik lontar belum memahami perawatan yang sesuai sehingga naskah mudah rapuh dan rusak.
Dalam laporan yang sama, jenis lontar yang ditemukan di masyarakat disebut beragam, antara lain usada, kawisesan, dan wariga. UPTD Gedong Kirtya memanfaatkan pendataan ini untuk pelestarian dan identifikasi koleksi, sekaligus mendorong perawatan agar isi lontar tetap bisa dibaca.
Pendataan tersebut menunjukkan tantangan utama pelestarian lontar di Buleleng bukan hanya pada banyaknya koleksi yang tersimpan di rumah warga, tetapi juga pada kondisi fisik naskah. Di Joanyar, kerusakan terjadi pada lima dari enam cakep lontar, sedangkan di Banjar seluruh 10 lontar yang diperiksa mengalami kerusakan.
UPTD Gedong Kirtya selama ini juga melakukan inventarisasi atas permintaan pemilik lontar untuk mendukung pendataan, pelestarian, dan referensi pengetahuan. Dalam sejumlah laporan resmi Pemkab Buleleng, lembaga ini disebut melakukan inventarisasi ke beberapa desa untuk mendata jumlah lontar, kondisi fisik, dan isi naskah yang disimpan masyarakat.
Kerusakan fisik yang ditemukan dalam pendataan Joanyar dan Banjar menegaskan bahwa lontar yang diwariskan turun-temurun membutuhkan penyimpanan kering, perawatan rutin, dan penanganan hati-hati agar isi naskah tidak hilang sebelum sempat dibaca dan didokumentasikan.
Artikel ini telah disesuaikan dengan data pendataan lontar yang diberitakan NusaBali dan keterangan resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng mengenai inventarisasi lontar oleh Gedong Kirtya.
Sumber
Berita berikutnya

PSN Bali Telusuri Jejak Aksara Nusantara hingga Aksara Bali
Seminar Eksplorasi Paleografi Nusantara yang digelar PSN Bali di Denpasar membahas hubungan Devanagari, Pranagari, dan aksara daerah, sekaligus menega…

