Bali Aktual

Minggu, 20 September 2026

6,9 Juta Wisman, Bali Didorong Hitung Daya Dukung

Anggota Komisi VI DPR RI I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan mendorong kajian daya dukung pariwisata Bali setelah kunjungan wisman tembus 6,95 juta pada 2025.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Denpasar — Anggota Komisi VI DPR RI I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan mendorong kajian menyeluruh tentang daya dukung atau carrying capacity Bali setelah kunjungan wisatawan mancanegara ke provinsi ini mencapai 6.948.754 sepanjang 2025 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali yang dikutip E-Media DPR RI dan Statistik Pariwisata Bali 2025.

Dorongan tersebut disampaikan Kesuma Kelakan dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VI DPR RI di Denpasar pada Jumat, 4 September 2026.

Menurut E-Media DPR RI, ia meminta Badan Pengelola BUMN dan Danantara menghitung daya dukung Bali sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

Kesuma Kelakan menyoroti pertumbuhan ekonomi Bali pada 2025 yang disebut mencapai 5,82 persen, serta kenaikan jumlah wisatawan mancanegara sekitar 9,7 persen dibanding 2024.

Angka kunjungan perlu dibaca bersama kapasitas layanan

Data Dinas Pariwisata Bali yang dikutip Bali Post menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali Januari–Juli 2026 mencapai 3.923.824, sedangkan wisatawan nusantara tercatat 5.905.118, sehingga total kunjungan kedua kelompok sekitar 9,83 juta.

Bali Post merinci, secara kumulatif kunjungan wisman Januari–Juli 2026 sekitar 1,9 persen lebih rendah dibanding periode yang sama pada 2025, sementara kunjungan wisatawan nusantara naik sekitar 1,3 persen.

Kilasbali.com yang mengutip Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali menjelaskan bahwa berdasarkan data BPS Bali, jumlah wisman hingga Juli 2026 mencapai 3.923.824 orang dan wisatawan domestik 5.857.046 orang.

Dalam pernyataan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Bali I Wayan Sumarajaya menyebut perkembangan kunjungan sejak April cenderung meningkat, tetapi secara keseluruhan masih relatif stabil, dengan Australia menjadi pasar wisman terbesar dan mencatat 982.403 kunjungan hingga Juli 2026.

Angka agregat tersebut penting untuk melihat tren, tetapi tidak langsung menggambarkan tekanan harian di lokasi tertentu.

Kajian daya dukung yang didorong Kesuma Kelakan disebut perlu mencakup sejumlah aspek layanan dasar, antara lain ketersediaan air bersih, pasokan energi, kapasitas jalan raya, dan kemampuan bandar udara melayani lalu lintas penerbangan.

Untuk menghasilkan ukuran yang lebih utuh, kajian daya dukung juga relevan bila memasukkan timbulan sampah, kapasitas pengelolaan limbah, kepadatan di titik wisata, lama tinggal wisatawan, serta dampaknya terhadap kualitas pengalaman wisatawan dan warga.

Konsentrasi kunjungan terlihat di Badung

Tekanan pariwisata tidak hanya tercermin pada angka provinsi.

Bali Post melaporkan, sepanjang Januari hingga Juli 2026 kunjungan wisatawan ke desa wisata di Kabupaten Badung mencapai 568.582 kunjungan, dengan enam desa wisata menyerap lebih dari 92 persen dari total tersebut.

Enam desa itu adalah Munggu, Sangeh, Mengwi, Bongkasa, Carangsari, dan Bongkasa Pertiwi.

Bali Post mencatat Desa Wisata Munggu menerima 145.526 kunjungan atau sekitar 25,6 persen dari total kunjungan, sedangkan Desa Wisata Sangeh mencatat 144.665 kunjungan atau 25,4 persen.

Jika digabungkan, Munggu dan Sangeh menyumbang sekitar 51 persen dari seluruh kunjungan desa wisata Badung sepanjang Januari–Juli 2026.

Desa Mengwi tercatat menerima 87.303 kunjungan, Bongkasa 65.315 kunjungan, Carangsari 50.244 kunjungan, dan Bongkasa Pertiwi 30.500 kunjungan.

Bali Post juga menyebut empat desa wisata di Badung menerima kurang dari 1.000 kunjungan selama tujuh bulan tersebut, yang mencerminkan pemerataan kunjungan wisata belum tercapai.

Dari sisi asal wisatawan, Dinas Pariwisata Badung mencatat wisatawan mancanegara menyumbang 310.636 kunjungan desa wisata atau 54,6 persen, sedangkan wisatawan nusantara menyumbang 257.946 kunjungan atau 45,4 persen.

Konsentrasi kunjungan di beberapa desa wisata ini di satu sisi mendorong ekonomi lokal di destinasi yang sudah dikenal.

Namun, menurut pejabat pariwisata yang dikutip berbagai media daerah, pola kunjungan yang terkonsentrasi berpotensi menimbulkan beban berlebih pada air bersih, lalu lintas, pengelolaan sampah, ruang publik, dan fasilitas wisata di kawasan yang sama.

Sejumlah inisiatif pengembangan destinasi, seperti penguatan kawasan Jatiluwih, Batur, dan Nusa Dua sebagai spot wisata utama, disebut sebagai upaya memecah konsentrasi kunjungan agar manfaat dan beban pariwisata lebih tersebar.

Dengan tren kunjungan yang tinggi dan konsentrasi wisata di titik-titik tertentu, usulan kajian daya dukung wilayah yang disampaikan Kesuma Kelakan menempatkan kapasitas lingkungan dan infrastruktur sebagai pertimbangan utama dalam perencanaan pariwisata Bali ke depan.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.