PLN Catat Konsumsi Listrik Bali Tumbuh 8,02 Persen pada Semester I 2026
PLN UID Bali mencatat konsumsi listrik di Bali tumbuh 8,02 persen pada semester I 2026. Pertumbuhan ini disebut tertinggi di Indonesia dan didorong oleh pulihnya aktivitas pariwisata serta ekonomi di kawasan Sarbagita.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· 2 menit baca
Denpasar — PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali mencatat konsumsi listrik di Bali tumbuh 8,02 persen pada semester I 2026. Angka ini disebut menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia dan didorong oleh aktivitas ekonomi serta pariwisata yang kembali bergerak di Pulau Dewata.
General Manager PLN UID Bali Ajrun Karim mengatakan pertumbuhan konsumsi listrik itu melampaui pertumbuhan ekonomi Bali yang berada di kisaran 5,6 persen. Keterangan tersebut disampaikan pada 20 Agustus 2026 dan dikutip oleh sejumlah media lokal yang menulis ulang pernyataan PLN.
PLN menyebut beban listrik Bali meningkat seiring pulihnya sektor pariwisata setelah pandemi COVID-19. Kenaikan paling jelas terjadi di kawasan Sarbagita, yang meliputi Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, karena wilayah ini menjadi pusat kegiatan ekonomi dan pariwisata di Bali.
Beban siang hampir setara beban puncak
Ajrun menjelaskan pola konsumsi listrik Bali berbeda dari banyak daerah lain. Beban siang di Bali berada pada kisaran 1.260–1.285 megawatt, sementara beban puncak mencapai sekitar 1.290–1.300 megawatt.
PLN juga mengaitkan lonjakan kebutuhan listrik dengan pertumbuhan pelanggan dan aktivitas usaha. Dari sekitar 1,547 juta pelanggan PLN UID Bali, sekitar 80 persen merupakan pelanggan ritel dan sekitar 15 persen pelanggan tegangan menengah.
Kelompok pelanggan tegangan menengah memang lebih sedikit, tetapi menyerap porsi daya yang besar. Di Bali, pelanggan jenis ini banyak berasal dari hotel, homestay, restoran, dan usaha jasa lain yang menopang pariwisata.
Naik setelah pandemi
PLN menyebut beban puncak listrik Bali pada 2019 masih sekitar 750 megawatt. Angka itu naik menjadi sekitar 800 megawatt pada 2020 dan sekitar 1.100 megawatt pada 2021, lalu terus bergerak naik ketika aktivitas wisata pulih.
Dalam laporan yang sama, Ajrun menegaskan pertumbuhan kebutuhan listrik Bali berkisar 7,85–8,02 persen per tahun. Ia menyebut kondisi itu menjadi sinyal bahwa pasokan listrik harus terus diperkuat agar pertumbuhan ekonomi dan pariwisata tidak terganggu.
PLN UID Bali belum merinci pertumbuhan konsumsi listrik berdasarkan sektor rumah tangga, usaha, dan pariwisata secara terpisah. Namun, perusahaan pelat merah itu menempatkan Sarbagita sebagai wilayah yang paling menonjol dalam peningkatan beban listrik.
Di tengah kenaikan kebutuhan listrik, PLN menyiapkan tambahan pasokan dan penguatan sistem kelistrikan Bali. Fokus itu diarahkan untuk menjaga keandalan suplai di wilayah yang konsumsi listriknya tumbuh cepat bersamaan dengan pemulihan pariwisata.
Sumber
Berita berikutnya

KONI Klungkung Siapkan Sanksi Atlet Absen TC Fisik Bareng TNI
KONI Klungkung menyiapkan sanksi berupa pencoretan dari kontingen Porprov Bali 2027 bagi atlet dan cabang olahraga yang menolak mengikuti pemusatan la…

