Pemkab Tabanan Perkuat Tata Kelola Desa Wisata Belumbang
Dinas Pariwisata Tabanan menggelar bimbingan teknis di Desa Wisata Belumbang untuk memperkuat tata kelola, kelembagaan, dan pengembangan produk wisata.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Singasana — Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui Dinas Pariwisata memperkuat tata kelola Desa Wisata Belumbang, Kecamatan Kerambitan, dengan menggelar bimbingan teknis bagi para pelaku usaha dan pengelola desa wisata.
Kegiatan ini dilaporkan berlangsung pada akhir Agustus 2026 di Desa Wisata Belumbang dan diikuti sekitar 40 pelaku usaha pariwisata setempat, menurut pemberitaan Bali Post.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tabanan I Made Agus Harta Wiguna menyatakan, pengembangan desa wisata tidak cukup hanya berhenti pada pembentukan kelembagaan atau pengakuan sebagai desa wisata. Pengelola perlu memastikan organisasi berjalan aktif, mampu mengemas potensi menjadi produk wisata, serta menyalurkan manfaat ekonomi kepada warga.
Menurut Agus, kendala utama yang masih dihadapi desa wisata di Tabanan adalah tata kelola, mulai dari kelembagaan yang belum berfungsi optimal, pengemasan produk wisata, hingga distribusi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Kelembagaan dan kapasitas pengelola
Agus menekankan bahwa kelembagaan desa wisata tidak boleh berhenti sebagai pemenuhan administrasi. Organisasi perlu membagi tugas, mendukung pengambilan keputusan, menyelesaikan persoalan operasional, dan mendorong keterlibatan warga.
Ia menjelaskan, keberadaan desa wisata tidak otomatis membuat pendapatan pariwisata dirasakan masyarakat. Manfaat ekonomi bergantung pada kemampuan pengelola menghubungkan atraksi, layanan, kegiatan, dan pelaku usaha lokal dalam satu sistem yang berjalan.
Masih menurut Agus, setiap desa wisata di Tabanan memiliki karakter, potensi, dan masalah yang berbeda. Karena itu, pendampingan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia tidak dilakukan secara seragam, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa.
Di Belumbang, bimbingan teknis tersebut menjadi bagian dari program peningkatan kapasitas sumber daya manusia di kawasan strategis pariwisata kabupaten. Kegiatan diarahkan untuk memperkuat tata kelola, kolaborasi, dan kemampuan pengelola mengembangkan produk wisata.
Pendekatan 4A + STAR
Materi bimbingan teknis di Belumbang disampaikan oleh akademisi dan praktisi pariwisata Dinar Sukma Pramesti dari Politeknik Internasional Bali. Dinar dikenal sebagai dosen dan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat di kampus tersebut.
Dalam kegiatan itu, peserta diperkenalkan pendekatan pengembangan desa wisata berbasis kolaborasi yang dirumuskan dalam kerangka 4A + STAR. Kerangka tersebut mencakup unsur daya tarik, fasilitas, aksesibilitas, dukungan layanan tambahan, serta cara desa wisata membangun cerita dan kegiatan yang terstruktur.
Melalui pendekatan ini, pengelola desa wisata didorong untuk memetakan potensi, mengemasnya menjadi produk yang jelas, dan memastikan ada proses evaluasi terhadap kegiatan pariwisata. Pengembangan tidak berhenti pada keberadaan atraksi, tetapi ditautkan dengan layanan, aktivitas, dan pengalaman yang dapat dinikmati pengunjung.
Belumbang merupakan salah satu desa wisata di Tabanan yang dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan telah memperoleh legitimasi melalui keputusan Bupati Tabanan pada 2020. Bimbingan teknis terbaru ini menjadi kelanjutan dari upaya penguatan kapasitas pengelola desa wisata di wilayah tersebut.
Kolaborasi dan manfaat ekonomi
Agus menggarisbawahi pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah, pengelola desa wisata, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan desa wisata. Kolaborasi dipandang sebagai unsur kunci agar tata kelola berjalan dan manfaat ekonomi tidak terpusat pada sebagian kecil pelaku.
Dinas Pariwisata Tabanan menilai, distribusi manfaat ekonomi dari kegiatan desa wisata masih menjadi tantangan. Aktivitas wisata perlu lebih terhubung dengan usaha milik warga, penyedia jasa lokal, dan kelompok-kelompok yang terlibat dalam pengelolaan.
Berbagai kajian sebelumnya tentang Desa Wisata Belumbang juga menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan Pokdarwis serta strategi pengembangan produk wisata yang berpihak pada masyarakat lokal. Dengan landasan tersebut, bimbingan teknis di Belumbang diarahkan tidak hanya pada teori pariwisata, tetapi pada praktik pengelolaan yang dapat diterapkan pengelola desa.
Pemerintah daerah menempatkan kegiatan pendampingan dan bimbingan teknis sebagai proses berkelanjutan untuk memperbaiki tata kelola desa wisata. Keberhasilan program akan bergantung pada keberlanjutan kolaborasi, kemampuan pengelola mengembangkan produk baru, dan sejauh mana manfaat ekonomi dirasakan warga.
Sumber
Berita berikutnya

Festival Tanah Lot 2026 Diklaim Tarik 10.000 Kunjungan dan Rp10 Miliar
Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 di DTW Tanah Lot, Desa Beraban, berlangsung 28–30 Agustus 2026.
Baca juga



