Bali Aktual

Minggu, 20 September 2026

Okupansi The Nusa Dua 70,51 Persen, Kunjungan Naik 8 Persen

ITDC mencatat kawasan The Nusa Dua di Kabupaten Badung membukukan okupansi rata-rata 70,51 persen dengan lama menginap 2,76 malam dan 1,79 juta kunjungan wisatawan pada semester I 2026, menjadikannya kontributor terbesar di antara tiga…

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Keindahan pantai Nusa Dua Bali dengan pasir putih dan birunya langit.
Foto arsip: Keindahan pantai Nusa Dua Bali dengan pasir putih dan birunya langit. · Foto: Anton Ardyanto / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Denpasar — Tingkat hunian hotel di kawasan The Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, rata-rata mencapai 70,51 persen dengan rata-rata lama menginap 2,76 malam pada semester I 2026, menurut PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau ITDC.

Dalam siaran resmi ITDC, kawasan The Nusa Dua disebut mempertahankan kinerja operasional yang solid dan melampaui target perusahaan untuk periode tersebut. ITDC mencatat kawasan ini sebagai destinasi leisure berkelas dunia yang menjadi kontributor terbesar bagi kunjungan wisata di portofolio perusahaan.

Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC Ahmad Fajar menyatakan masa tinggal wisatawan yang lebih panjang berpotensi memperbesar dampak ekonomi bagi ekosistem pariwisata dan pelaku usaha di sekitarnya. Ia menilai performa okupansi dan lama tinggal di The Nusa Dua pada paruh pertama tahun ini menunjukkan daya tarik kawasan yang tetap kuat di tengah persaingan destinasi.

ITDC melaporkan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke The Nusa Dua pada semester I 2026 mencapai 1.798.004 orang, naik 8,16 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Angka tersebut menjadikan The Nusa Dua kontributor terbesar dari total 2.497.458 kunjungan wisatawan di tiga kawasan yang dikelola ITDC, yakni The Nusa Dua di Bali, The Mandalika di Nusa Tenggara Barat, dan Golo Mori di Nusa Tenggara Timur.

Data utama semester I 2026

  • Okupansi rata-rata hotel di The Nusa Dua: 70,51 persen.
  • Rata-rata lama menginap (length of stay): 2,76 malam.
  • Kunjungan wisatawan ke The Nusa Dua: 1.798.004 orang, naik 8,16 persen dibanding semester I 2025.
  • Total kunjungan di tiga destinasi ITDC (The Nusa Dua, The Mandalika, Golo Mori): 2.497.458 wisatawan pada semester I 2026.

RRI dan sejumlah media nasional mencatat bahwa kunjungan ke Mandalika dan Golo Mori juga meningkat pada periode yang sama, meski kontribusinya masih di bawah The Nusa Dua. Kawasan di Lombok itu, misalnya, membukukan kenaikan okupansi hotel dari sekitar 44,94 persen menjadi 50,95 persen pada semester pertama 2026.

Konteks data pariwisata Bali

Data statistik pariwisata Bali menunjukkan rata-rata lama menginap wisatawan di hotel berbintang di provinsi ini mencapai 2,81 hari pada 2025, lebih tinggi dibanding 2,73 hari pada 2024. Wisatawan asing diproyeksikan tinggal sekitar 3,60 hari, sementara wisatawan domestik 2,55 hari pada 2025. Artinya, rata-rata length of stay 2,76 malam di The Nusa Dua pada semester I 2026 berada di kisaran rata-rata provinsi.

Sementara itu, publikasi lain BPS dan Kementerian Pariwisata menunjukkan rata-rata lama menginap tamu hotel bintang di Bali berada di rentang 2,6–2,7 malam pada beberapa bulan 2025. Data tersebut mengindikasikan durasi tinggal wisatawan yang relatif stabil, dengan sedikit variasi antarbulan.

Pola belanja wisatawan

Gambaran mengenai potensi ekonomi dari kunjungan wisatawan ke Bali dapat dilihat dari data pengeluaran wisatawan mancanegara. Laporan Bisnis Indonesia yang mengutip BPS menyebut rata-rata belanja wisatawan mancanegara di Bali sekitar Rp2,11 juta per hari pada 2025, naik dari Rp2,05 juta per hari pada 2024. Pengeluaran wisatawan nusantara juga meningkat, dari sekitar Rp1,93 juta per hari pada 2024 menjadi Rp2,02 juta per hari pada 2025.

Peningkatan tersebut menunjukkan potensi tambahan penerimaan bagi pelaku usaha pariwisata ketika kunjungan dan lama tinggal wisatawan naik. Namun, data pengeluaran itu menggambarkan Bali secara keseluruhan, bukan khusus kawasan The Nusa Dua, sehingga belum dapat digunakan untuk menghitung langsung pendapatan pelaku usaha di kawasan tersebut.

Selain itu, Bisnis Indonesia mencatat perubahan nominal pengeluaran wisatawan turut dipengaruhi pergerakan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang digunakan dalam pengukuran. Faktor nilai tukar ini menjadi salah satu variabel yang perlu diperhitungkan ketika menafsirkan tren belanja wisatawan dari tahun ke tahun.

ITDC memperkirakan tren positif kunjungan dan kinerja operasional di The Nusa Dua dan destinasi lain yang dikelolanya masih berpeluang berlanjut pada semester II 2026. Agenda nasional dan internasional di berbagai kawasan dinilai dapat mendorong peningkatan kunjungan, okupansi, aktivitas bisnis, dan kontribusi ekonomi bagi perhotelan, transportasi, ekonomi kreatif, UMKM, dan pelaku usaha lokal.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.