Bali Aktual

Minggu, 20 September 2026

Living Lab Panji Ubah Tutup Botol Jadi Produk Bernilai

Program Living Lab Desa Adat Panji di Buleleng menghubungkan edukasi siswa, praktik di TPS 3R Bhuana Utama Berseri, dan pengembangan usaha kecil dari kerajinan tutup botol plastik.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 4 menit baca

Singaraja — Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) mengembangkan program Living Lab Desa Adat Panji untuk mendorong pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Praktik pengolahan tutup botol plastik dilakukan bersama siswa kelas VI SD Laboratorium Undiksha Singaraja di TPS 3R Bhuana Utama Berseri, Desa Panji, pada Jumat, 18 September 2026.

Menurut laporan RRI Singaraja, kegiatan ini merupakan bagian dari program Living Lab Desa Adat Panji: Transformasi Pengelolaan Sampah Menuju Desa Berkelanjutan melalui Ekonomi Sirkular dan Inovasi Saintek. Program tersebut didukung pendanaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam skema Program Bestari Saintek.

Dalam praktik di TPS 3R, para siswa diajak mengikuti seluruh tahapan pengolahan tutup botol plastik. Tahapan dimulai dari pemilahan tutup botol berdasarkan warna, pencacahan menggunakan mesin, pembersihan material, pemanasan dengan oven, dan pengepresan hingga siap dibentuk menjadi produk sesuai kebutuhan.

Dari sampah menjadi bahan baku

Ketua pelaksana program, akademisi Undiksha I Nyoman Laba Jayanta, menjelaskan bahwa Living Lab diarahkan untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Menurut dia, sampah tidak semestinya hanya diangkut dan dibuang, melainkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku atau produk yang memiliki nilai ekonomi.

“Melalui pengolahan, sampah dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan baku atau produk bernilai ekonomi, sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat,” kata Jayanta, dikutip dari RRI Singaraja. Ia menekankan pentingnya pemilahan sampah sebagai dasar menjaga kualitas material yang akan diproses.

Penyuluh lingkungan hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng sebelumnya juga mencatat bahwa TPS 3R Bhuana Utama Berseri mengolah sampah organik dan anorganik, termasuk cacahan tutup botol plastik yang diolah menjadi kerajinan seperti asbak dan kotak pensil. Produk tersebut dipasarkan ke masyarakat sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah sampah.

Mencari model ekonomi yang berkelanjutan

Penanggung jawab TPS 3R Bhuana Utama Berseri, Mess, menilai program Living Lab memperkuat praktik pengelolaan sampah yang telah berjalan di fasilitas tersebut. Ia melihat adanya peluang pengembangan model bisnis dari hasil pengolahan sampah, terutama dari material plastik yang dapat diolah menjadi produk kerajinan.

Menurut Mess, keberadaan nilai ekonomi dari hasil olahan sampah dapat menjadi alasan tambahan bagi warga untuk lebih tertib memilah dan mengelola sampah. Dari proses ini, ia berharap muncul peluang usaha di tingkat lokal sehingga pengelolaan sampah desa menjadi lebih berkelanjutan.

Pandangan tersebut sejalan dengan tujuan program Living Lab, yang tidak hanya menambah kegiatan pemilahan dan pengolahan, tetapi juga mendorong terbentuknya aktivitas ekonomi baru berbasis material daur ulang. Sampah plastik yang sebelumnya dipandang sebagai buangan diarahkan melalui rangkaian pengumpulan, pemrosesan, pemanfaatan, dan penjualan produk.

Jayanta menyatakan bahwa semakin banyak material yang dapat dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali, semakin besar peluang pengembangan kegiatan ekonomi di masyarakat. Pengelolaan sampah di tingkat desa dengan demikian tidak berhenti pada pengangkutan, tetapi diarahkan sampai menghasilkan barang atau bahan yang memiliki kegunaan dan nilai jual.

Edukasi siswa dan keterlibatan warga

Program Living Lab Panji juga membawa dimensi edukasi bagi siswa sekolah dasar. Dalam kegiatan di TPS 3R, siswa tidak hanya menerima penjelasan mengenai jenis dan dampak sampah, tetapi terlibat langsung dalam praktik pemilahan dan pengolahan tutup botol plastik.

Salah seorang siswa, Aisya, menyampaikan antusiasme mengikuti kegiatan dan berharap pengetahuan tentang pemilahan serta pengolahan sampah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman langsung ini diharapkan menumbuhkan kebiasaan baru di keluarga dan lingkungan sekitar.

Sejumlah kegiatan pengabdian masyarakat dan pendampingan sebelumnya juga menempatkan TPS 3R Bhuana Utama Berseri sebagai ruang edukasi lingkungan bagi warga Desa Panji. Melalui pelatihan dan pendampingan, masyarakat didorong meningkatkan kapasitas dalam mengelola sampah secara berkelanjutan sekaligus mengintegrasikan pengelolaan sampah ke potensi wisata dan usaha desa.

Dengan keterlibatan sekolah, perguruan tinggi, TPS 3R, dan warga, Living Lab Panji menjadi salah satu contoh model pembelajaran bersama mengenai pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular di tingkat desa.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.