Gargita Santhi Angkat Alam Sangeh lewat Gamelan Inovatif di PKB 2026
Sanggar Seni Gargita Santhi dari Desa Sangeh, Abiansemal, Badung, menampilkan garapan gamelan inovatif bertema pelestarian alam dalam PKB XLVIII 2026 di Kalangan Angsoka Art Center Denpasar.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Denpasar — Sanggar Seni Gargita Santhi dari Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, menampilkan garapan gamelan inovatif bertema pelestarian alam dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026 di Kalangan Angsoka, Taman Werdhi Budaya Art Center, Denpasar.
Garapan ini mengangkat hutan dan monyet di kawasan wisata Sangeh sebagai sumber gagasan utama, serta memadukan unsur karawitan, tari, gerong, dan media artistik inovatif.
Menurut jadwal resmi PKB XLVIII 2026, pergelaran rekasadana gamelan inovatif oleh Sanggar Seni Gargita Santhi sebagai duta Kabupaten Badung berlangsung pada Kamis, 18 Juni 2026, sekitar pukul 17.00 Wita di Kalangan Angsoka Art Center Denpasar.
Garapan gamelan inovatif duta Badung
Dalam keterangan yang terekam pada dokumentasi video pementasan, penata menyebut garapan tersebut sebagai gamelan inovatif yang memadukan unsur tradisi dengan pendekatan baru.
Struktur garapan dikembangkan melalui tiga materi tabuh kreasi yang masing-masing mengangkat konsep hutan Sangeh, sosok penjaga hutan, dan kehidupan monyet di tiga ruang lingkup atau tempek di kawasan tersebut.
Pementasan didominasi seniman muda dari Banjar Pacung, Desa Sangeh. Mereka tampil sebagai duta Kabupaten Badung dalam kategori rekasadana gamelan inovatif PKB XLVIII 2026.
Dalam pengantar pementasan, penata menjelaskan bahwa garapan dipersiapkan selama kurang lebih tiga bulan latihan untuk menyatukan unsur karawitan, tari, gerong, dan media visual.
Pesan pelestarian lingkungan Sangeh
Pementasan gamelan inovatif ini membawa pesan pelestarian lingkungan sebagai refleksi nilai yang diwariskan leluhur kepada generasi masa kini.
Menurut penjelasan penata dalam dokumentasi pementasan, tema hutan Sangeh dan kehidupan monyet dipakai sebagai medium untuk mengingatkan pentingnya menjaga kawasan yang selama ini menjadi tujuan wisata.
Melalui penggambaran hutan, tokoh penjaga, dan aktivitas monyet, garapan menghubungkan pengalaman keseharian warga dan pengunjung Sangeh dengan bahasa panggung yang komunikatif.
Pertunjukan mengolah perpaduan bunyi gamelan dengan vokal gerong dan gerak tari, sehingga pesan yang diangkat tidak hanya hadir dalam narasi, melainkan juga dalam suasana bunyi dan visual di atas panggung.
Keterlibatan generasi muda
Dokumentasi pementasan mencatat keterlibatan puluhan seniman muda sebagai penabuh, penari, dan gerong dalam garapan gamelan inovatif ini.
Mereka tampil sebagai bagian dari Sanggar Seni Gargita Santhi Desa Sangeh yang rutin mengikuti ajang seni tingkat kabupaten dan provinsi.
Partisipasi generasi muda dalam pergelaran ini memperlihatkan bagaimana ruang festival seperti PKB menjadi wadah regenerasi bagi seniman karawitan dan tari di Badung.
PKB XLVIII dan tema lingkungan
PKB XLVIII 2026 digelar Pemerintah Provinsi Bali di Taman Werdhi Budaya Art Center Denpasar dengan melibatkan duta seni dari sembilan kabupaten/kota.
Dalam jadwal resmi, kegiatan rekasadana gamelan inovatif oleh Sanggar Seni Gargita Santhi ditempatkan sebagai salah satu program yang menonjolkan kreativitas garapan baru berbasis tradisi.
Melalui garapan bertema pelestarian lingkungan Sangeh, sanggar ini menempatkan isu lokal sebagai bagian dari narasi besar pelestarian alam yang diangkat dalam penyelenggaraan PKB tahun 2026.
Sumber
Berita berikutnya

PSN Bali Telusuri Jejak Aksara Nusantara hingga Aksara Bali
Seminar Eksplorasi Paleografi Nusantara yang digelar PSN Bali di Denpasar membahas hubungan Devanagari, Pranagari, dan aksara daerah, sekaligus menega…

