DTW Jatiluwih Siapkan Atraksi Panen dan Rencana Hutan Rakyat
Pengelola DTW Jatiluwih di Tabanan menyiapkan atraksi baru seperti ikut panen dan membuat alat tradisional, serta merencanakan pengembangan hutan rakyat.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 3 menit baca
Tabanan — Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih di Kecamatan Penebel, Tabanan, menyiapkan sejumlah atraksi berbasis pertanian agar wisatawan tidak hanya melihat panorama sawah terasering, tetapi juga terlibat dalam aktivitas di persawahan dan konservasi lingkungan.
Manajer Operasional DTW Jatiluwih I Ketut Purna mengatakan pengelola tengah menyiapkan aktivitas bagi wisatawan seperti ikut panen dan membuat alat-alat tradisional yang berhubungan dengan persawahan. Menurut dia, langkah ini dirancang untuk memperkuat pariwisata berbasis alam dan budaya serta memberi pemahaman lebih dalam mengenai kehidupan masyarakat agraris Jatiluwih.
Atraksi pertanian dan rencana hutan rakyat
Purna menjelaskan, aktivitas baru itu akan mengajak wisatawan terlibat langsung dalam proses pertanian, bukan hanya menikmati bentang sawah dari jalur kunjungan. Kegiatan seperti ikut panen dan membuat alat tradisional diharapkan menjadi pengalaman edukatif bagi wisatawan mancanegara maupun domestik.
Selain pengembangan aktivitas wisata, pengelola DTW Jatiluwih juga berencana mengembangkan kawasan hutan rakyat sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan. Rencana itu mencakup penanaman pohon dan penghijauan di area yang akan disiapkan khusus, dengan konsep yang disebut mirip kebun raya untuk menambah ruang hijau di sekitar kawasan persawahan.
Dalam sejumlah pernyataan sebelumnya, pengelola menyebut pengembangan atraksi dan ruang hijau dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara peningkatan kunjungan dan perlindungan lanskap subak. Konsensus di tingkat pengelola dan masyarakat lokal disebut penting untuk mencegah alih fungsi lahan persawahan.
Kunjungan wisatawan meningkat
Menurut Purna, Jatiluwih memasuki periode kunjungan tinggi pada musim liburan pertengahan tahun, terutama Juli hingga September, yang didominasi wisatawan Eropa. Pada periode high season itu, rata-rata kunjungan harian ditargetkan dan pernah mencapai sekitar 1.500 wisatawan per hari.
Data pengelola menunjukkan tren peningkatan kunjungan dalam beberapa tahun terakhir. Pada Juli 2024, Jatiluwih mencatat rekor lebih dari 1.750 wisatawan per hari, melampaui pencapaian sebelumnya di atas 1.500 wisatawan per hari. Kunjungan didominasi wisatawan asing, dengan Eropa menjadi pasar utama, disusul Asia dan India.
Di luar periode puncak, kunjungan harian berada di kisaran 500–800 orang dan meningkat pada akhir pekan. Pengelola menargetkan pertumbuhan kunjungan sekitar 10–20 persen per tahun, antara lain melalui penyelenggaraan Festival Jatiluwih dan pengembangan atraksi baru.
Keterlibatan masyarakat dan konservasi
Pengelola menekankan pentingnya menjaga kelestarian sistem irigasi subak dan hamparan sawah terasering Jatiluwih yang telah ditetapkan sebagai bagian dari lanskap budaya warisan dunia. Menurut pemberitaan lokal, peningkatan kunjungan mendorong pengelola dan desa menyusun kesepakatan untuk mencegah alih fungsi lahan dan mengatur aktivitas wisata agar tidak mengganggu siklus pertanian.
Dalam konteks itu, rencana atraksi panen dan pembuatan alat tradisional diarahkan sebagai kegiatan yang melibatkan masyarakat setempat. Keterlibatan petani dan pelaku usaha lokal diharapkan memastikan manfaat ekonomi dirasakan warga desa sekaligus menjaga karakter agraris kawasan.
Purna sebelumnya menyebut wisatawan asing terutama tertarik pada pengalaman langsung di sawah dan interaksi dengan petani. Pengembangan atraksi berbasis pertanian dan rencana hutan rakyat menjadi bagian dari strategi menjadikan kunjungan ke Jatiluwih lebih interaktif dan edukatif, dengan tetap menjaga keaslian lanskap persawahan.
Sumber
Berita berikutnya

Bupati Satria Lepas Peserta Fun Run Locatide Festival Nusa Penida
Bupati Klungkung I Made Satria melepas 112 peserta Fun Run 5 kilometer di Amarta Penida, Desa Sakti, Nusa Penida, Sabtu, 19 September 2026.
Baca juga



