BKSDA Bali Tawarkan Konsep The New Kintamani untuk RIPPARKAB Bangli
BKSDA Bali menawarkan konsep pengelolaan bentang alam adaptif dan kolaboratif di Kintamani sebagai bahan penyusunan RIPPARKAB Bangli 2026–2045, dengan penataan aktivitas wisata di TWA Gunung Batur Bukit Payang dan TWA Panelokan.
Oleh Asyinta Sastra
Editor: Mursyid Sonsang
· 3 menit baca
Bangli — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali menawarkan konsep “The New Kintamani” dalam Focus Group Discussion (FGD) penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten (RIPPARKAB) Bangli Tahun 2026–2045.
FGD digelar Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Bangli pada Selasa, 15 September 2026, di Bangli. Kepala BKSDA Bali Ratna Hendratmoko menyampaikan konsep itu sebagai salah satu bahan untuk merancang arah pembangunan pariwisata Bangli jangka panjang.
Menurut Ratna, The New Kintamani merupakan konsep pengelolaan bentang alam yang adaptif dan kolaboratif, khususnya di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur Bukit Payang dan TWA Panelokan. Ia menyatakan BKSDA Bali siap mendukung dan menindaklanjuti bersama Pemerintah Kabupaten Bangli, termasuk apabila ke depan diperlukan kerja sama bilateral.
Pengelolaan adaptif dan kolaboratif
BKSDA Bali merumuskan The New Kintamani sebagai pendekatan pengelolaan kawasan konservasi di Kintamani yang menyeimbangkan aspek konservasi, pariwisata, budaya, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Konsep tersebut mengedepankan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Menurut BKSDA Bali, pihak yang didorong terlibat antara lain pemerintah kabupaten, desa adat, pelaku usaha jeep wisata, pemandu pendakian, pelaku usaha sarana wisata alam, pedagang, masyarakat di dalam kawasan konservasi, pengelola Geopark, hingga agen perjalanan.
Dalam kegiatan konsolidasi konsep yang digelar sebelumnya di Kintamani, BKSDA Bali juga memaparkan milestone pelaksanaan The New Kintamani yang dirancang bertahap mulai Mei hingga Oktober 2026, dengan ruang untuk evaluasi dan penyesuaian terhadap perubahan di lapangan.
Langkah penataan aktivitas wisata
Sejumlah langkah yang tengah dan akan disiapkan BKSDA Bali berkaitan langsung dengan penataan aktivitas wisata di kawasan TWA Gunung Batur Bukit Payang dan TWA Panelokan.
Menurut paparan BKSDA Bali, langkah tersebut meliputi penataan jalur dan fasilitasi perizinan berusaha bagi kelompok jeep wisata, penataan jalur pendakian, penataan pedagang dan warung, penataan skuter wisata, serta penguatan pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
BKSDA Bali juga menyiapkan serangkaian pertemuan tematik dengan kelompok pelaku jeep wisata, pendakian, pedagang, pelaku usaha sarana wisata alam, serta pembahasan pengelolaan PNBP termasuk mekanisme asuransi dan petugas pemungut tiket.
Menjaga fungsi konservasi TWA
TWA Gunung Batur Bukit Payang dan TWA Panelokan merupakan kawasan konservasi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan wisata alam sesuai ketentuan pengelolaan. BKSDA Bali menekankan bahwa pengembangan wisata di Kintamani perlu berjalan seiring dengan perlindungan bentang alam, pengaturan jalur, dan pengendalian kegiatan di lapangan.
Upaya menjaga fungsi kawasan sebelumnya juga terlihat dalam kegiatan pencegahan kebakaran hutan dan lahan di kedua TWA, serta kerja sama untuk penguatan fungsi kawasan melalui pemanfaatan dan pengembangan Museum Gunung Api Batur.
Dalam FGD di Bangli, perwakilan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Abang Erawang, I Nengah Suranata, menyampaikan apresiasi atas pembangunan toilet umum dan pos penjagaan di TWA Panelokan yang dinilai meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengunjung.
Bagian dari penyusunan RIPPARKAB Bangli
FGD yang diselenggarakan BRIDA Bangli menjadi tahap awal penyusunan Naskah Akademik RIPPARKAB Bangli 2026–2045. Forum ini melibatkan pemerintah daerah, pengelola destinasi, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam merumuskan arah pembangunan pariwisata daerah.
RIPPARKAB dirancang sebagai pedoman pembangunan kepariwisataan Kabupaten Bangli dalam jangka panjang, dengan penekanan pada kelestarian lingkungan, budaya, dan manfaat bagi masyarakat. Dalam proses tersebut, usulan konsep The New Kintamani dari BKSDA Bali masih akan dibahas bersama para pemangku kepentingan sebelum diterjemahkan ke dalam kebijakan daerah.
Secara garis besar, The New Kintamani menawarkan penguatan koordinasi antaraktor, penataan kegiatan dan fasilitas wisata, serta penegasan bahwa aktivitas ekonomi di kawasan Kintamani tetap mempertimbangkan fungsi konservasi.
Sumber
Berita berikutnya

ARMA Fest 2026 Libatkan Ratusan Seniman Muda di Ubud
ARMA Fest 2026 di Ubud digelar pada 19–20 September 2026 di Agung Rai Museum of Art.
Baca juga



