Dinkes Tabanan Siapkan Rp220 Juta untuk Skrining TBC
Dinas Kesehatan Tabanan menyiapkan Rp220 juta untuk mengintegrasikan skrining TBC dengan Cek Kesehatan Gratis. Hingga Agustus 2026, terduga TBC yang ditemukan mencapai 2.015 orang, melampaui estimasi 1.883 orang.
Oleh Arsyid Muhamad
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 2 menit baca
Tabanan — Dinas Kesehatan Tabanan menyiapkan anggaran Rp220 juta untuk memperkuat skrining tuberkulosis (TBC) yang diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kebijakan itu dibahas dalam Forum Konsultasi Publik Dinas Kesehatan Tabanan pada Senin, 31 Agustus 2026, ketika pencarian terduga TBC dinilai masih perlu ditingkatkan untuk memutus rantai penularan.
Menurut Dinas Kesehatan Tabanan, hingga Agustus 2026 ditemukan 2.015 terduga TBC dari estimasi 1.883 orang, atau 107 persen. Capaian itu menunjukkan upaya penemuan sudah melampaui target, tetapi belum berarti seluruh pasien TBC terdiagnosis dan ditangani.
Skrining digabung dengan CKG
Sekretaris Dinas Kesehatan Tabanan, dr. Wayan Arya Putra Manuaba, mengatakan integrasi skrining TBC dengan CKG diharapkan membantu menemukan warga yang belum teridentifikasi. Setelah terduga ditemukan, pasien diarahkan menjalani pemeriksaan lanjutan dan pengobatan sesuai ketentuan.
Dalam pemaparan yang dikutip Bali Post, Dinkes Tabanan mencatat capaian penemuan terduga TBC pada 2024 sebanyak 3.400 orang dari estimasi 3.000 orang. Pada 2025, angka itu naik menjadi 3.566 orang dari estimasi 2.913 orang. Hingga Agustus 2026, penemuan terduga mencapai 2.015 orang dari estimasi 1.883 orang.
Capaian terapi pencegahan masih rendah
Dinkes Tabanan juga menyoroti rendahnya capaian terapi pencegahan bagi orang yang pernah kontak dengan pasien TBC. Hingga 31 Agustus 2026, capaian terapi pencegahan tercatat sekitar 16 persen, jauh di bawah target Provinsi Bali sebesar 40 persen.
Menurut Dinkes, orang yang pernah kontak dengan pasien TBC berisiko tertular dan berkembang menjadi kasus baru. Karena itu, skrining yang digabung dengan CKG diarahkan bukan hanya untuk menambah temuan, tetapi juga mempercepat penanganan dan membantu memutus penularan di masyarakat.
Penularan dan pengobatan
Dinas Kesehatan Tabanan menyebut pengobatan TBC berlangsung lama dan harus dijalankan rutin. Dalam praktiknya, sebagian pasien menghadapi efek samping obat seperti mual dan muntah, yang dapat membuat terapi tidak tuntas.
Dinkes juga menyebut skrining sebelumnya telah dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Baturiti, serta tiga kali di Lembaga Pemasyarakatan Tabanan dengan sasaran sekitar 300 orang. Lokasi itu dipilih karena pernah memiliki temuan TBC dan dinilai berpotensi menjadi tempat penularan.
Integrasi skrining TBC dengan CKG disusun untuk memperluas jangkauan pemeriksaan di Tabanan. Dengan pola itu, pemerintah daerah berharap penemuan terduga bertambah dan pengobatan bisa dimulai lebih cepat.
Sumber
Berita berikutnya

KONI Klungkung Siapkan Sanksi Atlet Absen TC Fisik Bareng TNI
KONI Klungkung menyiapkan sanksi berupa pencoretan dari kontingen Porprov Bali 2027 bagi atlet dan cabang olahraga yang menolak mengikuti pemusatan la…
Baca juga


