Bali Aktual

Jumat, 30 Oktober 2026

200 Pemuda Bahas Tiga Masalah Bali di Denpasar

Sebanyak 200 pemuda mengikuti Konferensi Pemuda Bali 2026 di Denpasar pada 29–30 Oktober. Forum membahas krisis lingkungan, kriminalitas, dan ketimpangan ekonomi Bali.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Tumpukan sampah plastik dan limbah mengotori tepi perairan yang gelap.
Ilustrasi: Tumpukan sampah plastik dan limbah mengotori tepi perairan yang gelap. · Foto: Collab Media / Pexels

Denpasar — Sebanyak 200 pemuda mengikuti Konferensi Pemuda Bali 2026 di Aula Taman Asoka, Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Denpasar, pada 29–30 Oktober 2026.

Forum yang juga disebut Paguneman Yowana Bali 2026 itu membahas tiga persoalan Bali: krisis lingkungan, kriminalitas, dan ketimpangan ekonomi. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Kamis hingga Jumat, dan melibatkan pemuda, pemerintah, akademisi, komunitas, serta guru.

Konferensi diselenggarakan Yayasan BASAibu Wiki Bali dengan tema “Éling: Relung Kesadaran Pemuda atas Krisis Lingkungan, Kriminalitas, dan Ketimpangan Ekonomi Bali”. Jumlah peserta yang terdaftar dan terlibat disebut mencapai 200 orang.

Isu yang dibahas dirumuskan melalui diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) bersama sejumlah pemuda Bali, lalu dipadukan dengan gagasan dari mini Wikithon. Pembahasan lingkungan mencakup kerusakan ekosistem pesisir, persoalan sampah, dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali.

Forum pemuda memetakan tekanan Bali Selatan dan wilayah lain

Forum ini relevan bagi pembaca di Kota Denpasar karena persoalan yang dibahas berkaitan dengan perubahan ruang hidup, perkembangan pariwisata, dan pembagian manfaat ekonomi di Bali. Salah satu sorotan yang muncul ialah gejala gentrifikasi pariwisata, ketika ruang tradisional masyarakat semakin terdesak kepentingan komersial, terutama di Bali Selatan.

Dari sisi ekonomi, pertumbuhan pariwisata dinilai belum dinikmati secara merata. Kesenjangan pembangunan antara Bali Selatan dan wilayah lain serta ketimpangan pendapatan masyarakat lokal menjadi tantangan yang perlu dijawab bersama. Pembahasan kriminalitas juga menempatkan keamanan sebagai bagian dari persoalan sosial yang perlu diperhatikan dalam arah pembangunan.

Konferensi tersebut memasuki tahun ketiga. Penyelenggara berharap forum melahirkan gagasan konkret agar pembangunan Bali tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan pariwisata, tetapi juga menjaga lingkungan dan menyejahterakan masyarakat.

Bagi pembaca hari itu, perubahan yang dapat dicatat adalah terselenggaranya forum dua hari di Denpasar dengan 200 peserta dan tiga isu utama sebagai agenda pembahasan. Tidak ada tarif, perubahan jalur, atau tenggat layanan publik yang diumumkan dalam laporan.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Budaya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.