Bali Aktual

Rabu, 30 September 2026

Musim Hujan Bali 2026/2027 Diprediksi Mundur

Stasiun Klimatologi Bali memprediksi awal musim hujan 2026/2027 mundur. Tiga zona musim diperkirakan mulai hujan pada akhir November, sedangkan 17 zona lainnya pada Desember.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Tetesan air hujan menempel di atas daun hijau dengan latar belakang gelap.
Ilustrasi: Tetesan air hujan menempel di atas daun hijau dengan latar belakang gelap. · Foto: Wyxina Tresse / Pexels

Provinsi Bali — Stasiun Klimatologi Bali memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di seluruh 20 Zona Musim (ZOM) Bali mengalami kemunduran dari kondisi normal. Tiga ZOM diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada akhir November 2026, sedangkan 17 ZOM lainnya pada Desember 2026.

Mengapa ini penting: Prediksi ini menunjukkan tiga ZOM diperkirakan mulai hujan pada akhir November 2026 dan 17 ZOM lainnya pada Desember 2026, sehingga persiapan menghadapi peralihan musim perlu disesuaikan.

Prediksi itu disampaikan berdasarkan pemutakhiran data dan analisis iklim terkini. Menurut Bali Post, 14 ZOM atau 70 persen diprakirakan memiliki sifat musim hujan normal, sementara enam ZOM atau 30 persen diprediksi mengalami sifat hujan atas normal.

Puncak hujan diperkirakan Februari 2027

Stasiun Klimatologi Bali memperkirakan puncak musim hujan di sebagian besar wilayah terjadi pada Februari 2027. Sebanyak 16 ZOM atau 80 persen diprediksi mencapai puncak pada bulan tersebut; satu ZOM pada Januari dan tiga ZOM pada Maret 2027.

Bali Post melaporkan 18 ZOM atau 90 persen juga diperkirakan memiliki durasi musim hujan lebih pendek daripada kondisi normal. Awal musim hujan pada tiga ZOM yang masuk kelompok November diperkirakan terjadi pada dasarian III atau sekitar akhir bulan.

Prediksi nasional BMKG pada September 2026 juga menyebut sebagian wilayah Bali termasuk daerah yang mengawali musim hujan pada November. BMKG mengaitkan keterlambatan awal musim hujan 2026/2027 dengan kondisi El Niño yang sedang berlangsung.

Dengan demikian, pemerintah daerah dan warga perlu memperhitungkan jeda musim kemarau yang lebih panjang dalam pengelolaan air dan kesiapsiagaan menghadapi hujan ketika musim beralih. Rincian tindakan pembersihan drainase, normalisasi sungai, pemeriksaan penampung air, dan penguatan tebing tidak dimuat dalam sumber yang terverifikasi untuk berita ini.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Lingkungan

  3. Berita utama hari ini

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.