Bali Aktual

Jumat, 9 Oktober 2026

Mengapa Risiko Bencana Hidrometeorologi Bali Berbeda Tiap Wilayah?

Data BPBD dan BMKG menunjukkan risiko bencana Bali berbeda menurut lokasi dan ukuran yang dipakai: curah hujan, kejadian bencana, atau penanganan musibah.

Oleh

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Dua orang pria berjalan tergesa-gesa di bawah guyuran hujan lebat di area terbuka.
Ilustrasi: Dua orang pria berjalan tergesa-gesa di bawah guyuran hujan lebat di area terbuka. · Foto: Md Nadim Mahmud / Pexels

Risiko bencana hidrometeorologi di Bali tidak hanya ditentukan oleh hujan lebat, tetapi juga oleh dampak turunannya seperti banjir, longsor, pohon tumbang, dan kerusakan bangunan. Data BPBD Bali menunjukkan pola penanganan yang didominasi pohon tumbang dan cuaca ekstrem, sementara BMKG mencatat curah hujan bulanan yang sangat berbeda antarwilayah.

Seberapa sering bencana terjadi di Bali?

BPBD Bali mencatat 286 kejadian atau musibah yang ditangani BPBD kabupaten dan kota sepanjang Maret 2025. Dari jumlah itu, penanganan pohon tumbang mencapai 141 kejadian atau 49 persen, sedangkan hujan deras dan angin kencang mencapai 67 kejadian atau 23 persen, menurut BPBD Bali, 2025.

Angka tersebut adalah penanganan kejadian atau musibah, bukan seluruhnya kategori bencana. Untuk kategori bencana yang memakai ambang batas BNPB, BPBD Bali mencatat 11 kejadian bencana pada Maret 2025; 10 di antaranya dipicu cuaca ekstrem dan satu berupa banjir, menurut BPBD Bali, 2025.

Apakah hujan di Bali merata?

Tidak. Buletin Iklim Bali BMKG mencatat curah hujan Agustus 2025 berada pada rentang 0,0-231,5 milimeter per bulan. Curah hujan tertinggi 231,5 milimeter dengan 11 hari hujan terjadi di bagian selatan Kabupaten Karangasem, Kecamatan Sidemen, menurut BMKG, 2025.

Perbedaan itu berarti satu wilayah dapat mengalami hari tanpa hujan lebih panjang, sementara wilayah lain menerima hujan lebih sering. BMKG mencatat tingkat keseringan hujan tertinggi pada Agustus 2025 mencapai 18 hari per bulan di Kabupaten Bangli, menurut BMKG, 2025.

Apa dampaknya bagi warga?

Pada Maret 2025, rangkaian kejadian yang ditangani BPBD se-Bali berdampak pada 7 korban jiwa, 6 orang luka-luka, dan 162 bangunan rusak. Estimasi kerugian yang dicatat BPBD Bali mencapai Rp6.531.800.000, menurut BPBD Bali, 2025.

Rekap kategori bencana pada bulan yang sama mencatat 7 korban jiwa, 4 orang luka-luka, dan 54 bangunan rusak dengan estimasi kerugian Rp2.786.700.000. Perbedaan cakupan ini menunjukkan bahwa angka penanganan musibah dan angka kejadian bencana tidak boleh dibaca sebagai satu seri data yang sama, menurut BPBD Bali, 2025.

Bagaimana membaca angka risikonya?

Curah hujan tinggi di satu lokasi tidak otomatis berarti seluruh Bali mengalami kondisi yang sama. Penilaian risiko perlu melihat lokasi, durasi hujan, kondisi lereng dan saluran, serta jenis dampak yang dicatat dalam laporan kebencanaan.

Untuk membaca data secara tepat, bedakan tiga hal berikut:

  • Curah hujan, yaitu jumlah hujan yang diukur BMKG dalam milimeter dan periode tertentu.
  • Kejadian bencana, yaitu peristiwa yang dihitung BPBD berdasarkan ambang batas BNPB.
  • Penanganan kejadian atau musibah, yaitu seluruh respons lapangan yang dapat mencakup pohon tumbang, longsor, banjir, dan gangguan lain.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Lingkungan

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.