Bali Aktual

Jumat, 2 Oktober 2026

Mengapa Pasokan Akomodasi Bali Berisiko Picu Perang Tarif?

PHRI Badung menilai pertumbuhan hotel, vila, dan akomodasi lain perlu dikendalikan agar Sarbagita tidak terjebak perang tarif berkepanjangan.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· 2 menit baca

Buka foto ukuran besar. Ilustrasi: Kamar hotel modern bernuansa putih dengan dua tempat tidur, televisi di dinding, dan jendela bertirai tipis.
Ilustrasi: Kamar hotel modern bernuansa putih dengan dua tempat tidur, televisi di dinding, dan jendela bertirai tipis. · Foto: Quang Nguyen Vinh / Pexels

Denpasar — Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung I Gusti Agung Rai Suryawijaya menyoroti pasokan akomodasi Bali yang terus bertambah pada Rabu, 30 September 2026. Ia menilai kondisi itu berisiko mendorong perang tarif berkepanjangan.

Menurut laporan NusaBali dan Bali Post, akomodasi yang ditawarkan untuk dijual mencakup vila yang sudah dibangun dan beroperasi. Tingkat hunian sejumlah hotel dan vila yang ditawarkan disebut berada di atas 60 persen hingga 75 persen. PHRI menilai pertumbuhan pembangunan perlu dibandingkan dengan permintaan dan kapasitas pasar Bali.

Jenis akomodasi yang disebut dalam laporan meliputi hotel, vila, kondotel, guest house, apartemen, dan akomodasi lainnya. Jika pasokan terus bertambah tanpa memperhitungkan kapasitas pasar, persaingan antarpelaku usaha dapat semakin keras. Penurunan tarif berpotensi menekan omzet pengusaha, service charge karyawan, dan penerimaan pajak.

Mengapa oversupply kamar penting bagi pembaca Bali

Isu ini berkaitan langsung dengan perubahan harga dan mutu layanan pariwisata. Perang tarif dapat membuat pelaku usaha menekan harga untuk mengisi kamar. Dalam jangka berikutnya, tekanan pada omzet dapat memengaruhi ruang usaha untuk mempertahankan pelayanan dan biaya tenaga kerja.

Kawasan Sarbagita—Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan—disebut perlu mendapat perhatian dalam pengendalian pembangunan akomodasi. Rai mengusulkan kajian carrying capacity, atau daya tampung Bali, untuk menentukan batas pertumbuhan pariwisata. Ia juga mengusulkan evaluasi dan penataan ulang dalam rentang tiga hingga lima tahun, termasuk kemungkinan moratorium pembangunan di kawasan yang pasokannya sudah berlebih.

Laporan Bali Post mencatat Rai mendorong peningkatan harga, bukan penambahan pasokan. Alasannya, kapasitas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai disebut terbatas. Untuk pembaca, dampak yang terlihat hari itu adalah persaingan tarif akomodasi yang makin ketat, terutama di wilayah Bali selatan dan kawasan Sarbagita.

Sumber

Baca berikutnya

  1. Lanjutan topik ini

  2. Terbaru di Ekonomi

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.